Membangun Pemahaman dan Empati: Memberdayakan Komunitas Gereja GBI City of Love (GBI CLC) Melalui Inisiatif Kesehatan Mental
“Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata ‘Mental Health’?”

Pertanyaan reflektif ini menjadi pembuka dalam seminar yang diadakan OURI Mind Care and Support bagi komunitas gereja GBI City of Love (GBI CLC) pada 21 Februari 2026.
Menghadirkan Asaelia Aleeza M.Sc.,M.Psi., Psikolog dan Diella Gracia Martauli M.A., M.Psi., Psikolog, seminar ini mengajak peserta untuk memahami kesehatan mental dari perspektif yang lebih empatik, sekaligus mempelajari cara-cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung kesejahteraan emosional anak, keluarga, dan komunitas.
Memahami Kesehatan Mental dan Tantangan yang Dialami Anak & Remaja
Seminar diawali dengan pembahasan mengenai makna kesehatan mental serta berbagai faktor yang mempengaruhi. Psikolog Asaelia menjelaskan bahwa pengalaman hidup, termasuk luka emosional dari pengalaman traumatis, dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun orang lain. Hal ini seringkali berkaitan dengan munculnya tantangan kesehatan mental seperti kecemasan, perubahan suasana hati yang berkepanjangan, maupun kesulitan dalam membangun rasa percaya diri.
Melalui penjelasan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa dinamika emosional tersebut dapat dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, peran keluarga dan komunitas menjadi penting dalam menciptakan ruang yang aman untuk mendengarkan, memvalidasi perasaan, serta memahami tahap perkembangan anak dan remaja dengan lebih utuh.

Mengenal Anak & Remaja Berkebutuhan Khusus serta Cara Memberikan Dukungan
Pada sesi berikutnya, psikolog Diella membagikan berbagai pendekatan praktis dan penuh empati dalam menghadapi tantangan perkembangan pada anak dan remaja, baik di rumah maupun di lingkungan belajar.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya mengingat bahwa setiap anak membawa pengalaman hidup, kekuatan, dan tantangannya masing-masing yang memengaruhi perilaku mereka. Oleh karena itu, orang dewasa diajak untuk terlebih dahulu menenangkan diri sebelum merespons, serta melihat perilaku anak sebagai bentuk kebutuhan yang perlu dipahami, bukan sekadar sesuatu yang harus disalahkan.
Peserta juga diajak untuk memisahkan antara anak dan perilakunya, serta memberikan dukungan secara langsung melalui langkah-langkah sederhana. Beberapa di antaranya seperti memberi pilihan, memecah tugas menjadi bagian yang lebih kecil, atau menyediakan ruang bagi anak untuk menenangkan diri.
Melalui diskusi dan refleksi yang berlangsung dalam seminar ini, para peserta diajak untuk melihat kesehatan mental bukan hanya sebagai sebuah istilah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dipahami dengan empati, kepedulian, dan dukungan bersama.
Lalu, kembali lagi pada pertanyaan di awal:
“Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata mental health?”

Mungkin kini jawabannya tidak lagi sekadar tentang masalah atau kesulitan, melainkan tentang bagaimana kita sebagai keluarga, komunitas, dan sesama manusia dapat saling hadir, mendengarkan dan mendukung satu sama lain.
