Membantu Anak Berkembang di Sekolah: Kesiapan, Kepercayaan Diri, dan Lingkungan yang Tepat
Melihat anak berjuang menyesuaikan diri di sekolah, entah soal akademik, sosial, atau emosional, adalah salah satu momen paling menguji hati sebagai orang tua.
Pada 9 Mei 2026, OURI berkolaborasi bersama Enreach Behavioral Services dalam event ‘Helping Your Children Thrive: School Readiness & Choosing The Right Fit’ untuk menjawab kekhawatiran tersebut sekaligus mengedukasi orang tua mengenai kesiapan anak bersekolah. Difasilitasi oleh Diella Gracia Martauli, M.A., M.Psi., Psikolog dan Sherine K. Hassan, M. ABA., BCBA, SAP, orang tua diajak memahami kesiapan anak dari berbagai sisi: mulai dari faktor yang memengaruhi kemampuan dan kepribadian anak, hingga bagaimana membangun collaborative environment antara sekolah dan orang tua.
Panduan Kesiapan Sekolah untuk Orang Tua
Psikolog Diella membuka sesi dengan menjelaskan kemampuan-kemampuan yang perlu diperhatikan pada anak: motorik, kognitif, sosial-emosional, dan yang tak kalah penting, kemampuan pre-akademik serta perilaku adaptif. Di sinilah peran orang tua diperlukan: membantu anak belajar mengikuti rutinitas, memahami instruksi, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Namun, hal terpenting dari semua itu adalah memberi anak ruang untuk belajar. Artinya, orang tua perlu sabar mendampingi dan menghindari pola pikir “biar cepat, saya bantu aja” atau “nanti makannya berantakan, biar saya suapin aja”. Sebab, anak yang diberi kepercayaan oleh orang tuanya akan merasa aman untuk mencoba hal baru, dan dari situlah proses belajar sesungguhnya dimulai.
Kepercayaan ini pula yang menjadi bekal penting ketika orang tua mulai memikirkan langkah selanjutnya: memilih sekolah yang tepat. Sebab, memilih sekolah bukan sekadar mencari tempat yang pas untuk hari ini, melainkan mempersiapkan pondasi untuk masa depan anak. Di sinilah orang tua perlu memandang proses ini sebagai long-term project, bukan keputusan sesaat. Sekolah yang dipilih idealnya bukan hanya yang unggul secara akademik, tapi juga yang turut membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, sejalan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua sejak dini.
Dari Shadow Teacher hingga Akomodasi Belajar: Cara Sekolah dan Orang Tua ‘Bekerja Sama’ Mendukung Anak
Namun, kesiapan anak dan pemilihan sekolah yang tepat saja tidak cukup , sebab keberhasilan anak beradaptasi juga bergantung pada bagaimana sekolah dan orang tua berjalan beriringan setelahnya. Behavioral Analyst Sherine melanjutkan sesi dengan menjawab pertanyaan: “Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas keberhasilan anak di sekolah?”
Jawabannya bukan orang tua atau sekolah saja, melainkan hasil dari collaborative effort kedua belah pihak. Di satu sisi, orang tua perlu memastikan apakah guru anak terbuka terhadap kebutuhannya, menerapkan metode belajar yang fleksibel, dan berkomunikasi secara aktif dengan orang tua. Di sisi lain, sekolah juga berperan aktif memfasilitasi proses belajar anak — misalnya melalui visual schedule, atau movement dan sensory breaks — sebagai bagian dari Universal Design, yaitu pendekatan akomodasi yang dirancang untuk meningkatkan akses belajar, partisipasi di kelas, dan kemandirian anak.
Pada akhirnya, keberhasilan anak beradaptasi di sekolah bukan cerita satu pihak — ini tentang orang tua yang percaya pada proses anak, dan sekolah yang membuka ruang untuk anak berkembang sesuai kebutuhannya. Ketika kedua pihak berjalan beriringan, anak tidak hanya belajar mengikuti rutinitas atau instruksi, tapi juga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan barunya sendiri.
